Surat Cinta Ke-21 Untuk Dewa

Dear Dewa,

Aku hampir selalu bersemangat untuk menulis, jadi aku menulis beberapa lelucon ini untuk hari kebahagiaanmu. Jangan kamu pernah berpikir jika aku akan menulis cerita yang memesona, aku hanya ingin membuatmu jengkel sedikit saja, dan kamu akan menertawakan dirimu sendiri sambil membaca ini.
Sincerely, Jandi.
Like a letter for Dewa, dedicated for PRG.

                Ada satu hal yang tidak bisa kamu mengerti: waktu. Beberapa tahun lalu, aku melihatmu seperti orang asing dari planet lain dengan seragam berwarna biru. Kamu benar-benar terlihat sangat asing saat itu, seperti anggota delegasi PBB yang tersesat di bumi karena kehilangan mata pencaharian, matamu seperti terpaksa untuk mencair dengan kehidupan nyata, dan kamu berlalu begitu saja. Beberapa waktu selanjutnya, kamu berperan sebagai utusan Einstein untuk membawa rumus-rumus keadilan, garis wajahmu keras, dan satu hal yang paling mengherankan adalah kamu sama sekali tidak tahu bagaimana caranya tersenyum dan tertawa dengan baik. Hingga kamu bertemu dengan kami.
                Aku tebak kamu memiliki apa yang tidak orang miliki: garis prisma segitiga, bulu mata berlian, rumus relativitas, teori atom, hingga toilet portable berlapis emas. Kamu menjalani hidup seperti di khayangan, jelas saja karena nama penamu adalah ‘Dewa.’ Namun, jangan terbang terlalu tinggi karena ada sekelompok babi yang menghancurkan harimu di saat yang baik. Apakah kamu tertawa? Ya, aku sedang tertawa. Bagaimana seorang anggota delegasi PBB menurunkan derajatnya dengan sebuah video berjudul “Time Machine” di sebuah channel Youtube. Aku tidak pernah berpikir bahwa kamu mampu bergoyang sepertu ulat bulu di pucuk daun, memainkan kepalamu seperti anak muda, hingga video itu berakhir dengan lambaian tanganmu. Jika kamu ingin tahu, itu lumayan memalukan. Sungguh memalukan.
                Aku tidak pernah berpikir jika utusan Eistein bisa juga menjadi aneh. Aku hanya berpikir bahwa kamu adalah mahluk yang paling serius, menyebalkan, dan tanpa humor. Coba kamu rewind beberapa menit saat aku ada di sampingmu. Aku mulai bercerita tentang bagaimana kamu akan berlari saat kami memainkan drama tentang hantu dari Thailand. Kamu hanya harus tahu bahwa wajahmu terlihat jelek saat sang hantu muncul, dan kami tertawa. Atau, saat kamu bercerita tentang seorang anak berumur 569 hari bernama ‘Chinen’ yang diam-diam ingin kamu nikahi, dan cerita tentang “memangnya kamu tidak tahu bahwa dari lahir tangan kita memang panjang sebelah!” Adegan lain seperti “saat itu malam, hujan, ada petir, dan aku pengen pipis!” dan quote terakhir “kita lihat saja siapa yang tertawa paling terakhir!” hingga “pernikahan yang sah adalah....” Itu adalah hal paling absurd yang pernah aku dengar dari seorang utusan Einstein.
                Apakah itu terdengar seperti kamu sudah tahu bagaimana caranya tersenyum dan tertawa dengan baik sekarang? Menjadi seorang Dewa memang hebat, tapi bersama sekelompok babi yang mampu membuatmu tertawa sepanjang hari adalah hal yang paling hebat. Kamu bisa berbicara dengan Einstein atau kolega Dewa lainnya tentang teori kesempurnaan, namun mereka tidak akan pernah mengerti tentang warna-warni yang bisa kami munculkan dalam matamu.
                Itu adalah hal lain yang tidak kamu mengerti. Aku juga tidak mengerti. Aku masih melihatmu seperti delegasi PBB dan utusan Einstein, namun ada sebuah emosi yang membuat itu menjadi lebih baik. Aku masih melihatmu seperti anak yang sama, yang berkembang lebih cepat setiap bulan Juli. Ada semangat yang sama, mimpi yang lebih tinggi, dan senyum yang lebih cerah hingga aku ingin sekali menulis 21 hal untuk setiap tahun yang Tuhan berikan untukmu. 21, aku tidak cukup pintar untuk menghitung hingga bilangan 21. Aku hanya merasa Tuhan adalah hal yang paling baik hingga kami masih disini, menuliskan 21 mimpi untuk Dewa. Aku harap Tuhan masih mengijinkan kami untuk bercerita tentang 22, 23, 25, 30 hingga bilangan selanjutnya dengan sebuah cinta. Aku tidak bisa mengatakan 21 ini sebagai cerita ‘persahabatan’ aku rasa tidak seperti itu. Aku hanya…. kehabisan tinta untuk melanjutkan ini.
“21, ada mimpi yang harus kita kejar!”- PRG.


PS: Semua orang bisa memberimu segalanya, tapi surat ini akan jadi yang paling berharga. Selamat wisuda juga Dewa.




Comments