Kampus Fiksi Angkatan 20: Yang Belum Mau Pulang dari Jogja

"Menjadi penulis tidak bisa sendirian." Setelah dibaca tiga kali, kata-kata itu benar juga.
Saat jaman kuliah, saya ikut beberapa komunitas menulis dan sastra yang bikin mata selalu bersinar-sinar saat sedang bersama mereka. Seperti ada kembang api, cokelat leleh, musikalisasi puisi, dan Sigmund Freud dimana-mana. Kemudian, hari-hari seperti itu sudah lama hilang. Entah apa. Hidup menjadi Senin sampai Jumat saja.

November 2016

Saya dan teman lama yang konyol ini, Irfan, datang ke Kampus Fiksi Roadshow di Gramedia Matraman. Di sana saya bertemu dengan beberapa teman lainnya dari grup WhatsApp yang juga berada di bawah naungan Kampus Fiksi. Siang itu adalah hari yang baik. Pak Edi, Ceo Diva Press, memberi sambutan yang hanya saya lihat sebagian karena saya datang terlambat. Ada Bang Reza Nufa yang memakai kemeja warna abu-abu berbicara cukup aneh tentang dunia kepenulisan. Kemudian, kami memiliki sesi menulis selama satu jam. Duduk di samping Irfan, saya menulis sebuah cerpen berjudul "Daniella."

24 Maret 2017

Saya dan Irfan naik kereta menuju Jogja pukul 6:45 pagi. Sepanjang perjalanan kami menonton deretan sawah, pohon kesepian di tengah ladang, dan saya memikirkan akan seperti apa Kampus Fiksi nanti.
Tiba di Stasiun Lempuyangan hampir pukul 4 sore, bertemu dengan mas Jaka dan Mba Husna yang ramah sejak pertemuan pertama kami. Juga Mas Wawan dan Mas Kiki yang memastikan kami datang selamat sampai di asrama Kampus Fiksi. Jogja, udaranya agak panas dan lembab, tapi orang-orang yang pertama saya temui di sana membuat semuanya jadi hangat. Indah.
Sesi perkenalan selanjutnya adalah menyebutkan nama, asal, dan tempat keramaian favorit. Ini adalah awal dari semuanya saat ada yang menyebutkan jika tempat keramaian favoritnya adalah toilet, air terjun, pengajian, toko buku, sampai kuburan. Epic!

25 Maret 2017

Lebih dari 50 orang dari kota, background, profesi, kebiasaan, dan semua hal berbeda berbaur jadi satu seperti kami adalah sahabat yang telah lama hilang dan berjumpa lagi. Entah dari mana saya harus mulai bercerita, tapi kami duduk melingkar menikmati urap, ayam goreng, orek tempe, sambal dan cemilan tak habis-habis dengan sapaan kecil yang mungkin saja sudah menjadi cinta.
Pak Edi membuka Kampus Fiksi Angkatan 20 dengan tampilan yang damai. Kampus Fiksi Angkatan 20 adalah angkatan terkhir karena itu jumlah pesertanya banyak sekali. Ada lebih dari 50 peserta yang berkumpul pada satu titik, mendengarkan suara yang sama, mungkin juga bermimpi mimpi yang sama. Kemudian, Pak Edi mengatakan sesuatu seperti, "Jangan jadi penulis karena kamu tidak bisa kaya. Kecuali kamu adalah Tere Liye." Kata-kata itu membawa kembali pada ruang kelas dimana saya duduk di pojok dan seorang dosen hampir tua mengatakan hal yang kurang lebih sama. Namun, saat itu saya masih cukup remaja, tolol, dan mudah marah. Saya beberapa kali meninggalkan ocehan dosen hampir tua itu dan terancam tidak lulus kuliah. Begitu saja. Namun, Pak Edi membuka opini lain dan sekarang saya mengerti apa maksudnya. Pak Edi juga mengatakan semua hal yang ingin saya dengar. Cerita tentang kebersamaan, perjuangan, dan kebebasan. "Pidi Baiq hari ini adalah kami dua puluh lima tahun yang lalu." Betapa damainya mendengar itu. Lalu, semua teman-teman seperti, saya memperhatikannya, tanaman yang disiram air selepas kemarau. Lalu, dilanjutkan oleh Bang Rea Nua. Saya selalu ingin bertanya kenapa dia menghilangkan huruf 'z' dan 'f' dari namanya itu. Padahal huruf z dan f itu manis juga. Malam sebelumnya saya melihat Bang Rea Nua memakai t-shirt hitam dengan kutipan karya Hamzad. "Maukah kau menghapus bekas birbirnya di bibirku dengan bibirmu." Saya berdoa semoga ada gadis manis yang memakai t-shirt lainnya bertuliskan, "Mau." Saya suka t-shirt-nya.
Perkuliahan pun dimulai bersama Mba Ajjah, Mba Rina, dan tim lainnya yang memberikan informasi, menjawab pertanyaan, membuat kami merasa lebih baik dari sebelum kami datang ke Jogja. Dilanjutkan dengan sesi menulis 3 jam dengan tema tempat keramaian favorit yang semalam sudah disebutkan. Saya memilih tema konser karena sama seperti toko buku, sebuah konser adalah tempat orang-orang kesepian yang mencoba menghibur diri. Mungkin sama juga rasanya dengan club malam atau lantai dansa, tempat ramai paling sepi. Sayangnya, 15 menit pertama saya tidak berhasil menulis apa pun. Saya lebih memilih mengamati teman-teman lain yang sedang menulis. Saya hanya belum bisa menyentuh lutut saya sendiri untuk percaya lagi jika saya sedang bersama lebih dari 50 orang yang menyukai hal yang sama seperti apa yang selalu saya inginkan. Rasanya seperti menemukan bagian dari dirimu yang entah hilang atau memang tidak pernah ada.
Selesai menulis, kami makan malam bersama, gratis, saya suka. Di depan saya ada seorang laki-laki yang minta sambal dari teman-teman lain, Kunang-Kunang Dini Hari, saya merasa micin karena tidak menyapanya lebih dulu.
Lalu, kami pergi ke Malioboro. Gerimis. Berjalan kaki dengan orang-orang yang baru saya kenal tapi begitu renyah. Kak El, Jihen, Amanda, dan lainnya kalian manis sekali. Kembali ke asrama Kampus Fiksi, entah apa, namanya permainan Were Wolf. Ada Lida, Kakun, Mas Ubay, Bella, Mba Ratih, Ninda, Gee, Mas Kiki yang sebenarnya tidak saya mengerti sedang main apa tapi dari situ saya tahu apa artinya micin. Dan kami bermain sampai pukul satu pagi. Bermain game dengan orang yang baru dikenal sampai dini hari? Mungkin itu yang dinamakan jatuh cinta pada orang asing.

26 Maret 2017

Hari terakhir. Kami belajar tentang keredaksian, marketing,  posttest, juga review dari hasil menulis cerpen di hari sebelumnya. Epic! Mas Agus Noor menjadi bintang tamu. Sejak kata pertama yang Mas Agur Noor katakan, mata saya tidak bisa lepas darinya. "Damn, hot!" Berkali-kali saya mengatakan itu pada diri sendiri. Saya juga berbisik hal yang sama pada Irfan, "Damn hot!" Mas Agus Noor pun berbagi pengalaman menulisnya dan menantang kami dengan ide-ide baru. Tentang apel, kenganan, tikus, dan pastikan jika kamu bunuh diri semuanya baik-baik saja. Kemudian saya gugup seperti sedang bertemu dengan cinta pertama, hanya berani satu kali menjawab tantangannya dan itu adalah segalanya.
Sialnya, waktu cepat sekali berlalu ketika kamu sedang bahagia. Saya dan Irfan harus mengejar kereta pukul lima sore. Kami, mau tidak mau, pamit lebih dulu. Terpaksa tidak ikut dalam acara penutupan yang sebenarnya adalah puncak acara. Klimaks. Seperti sedang orgasme namun si laki-laki pergi begitu saja, mungkin begitu rasa nanggungnya. Kami diantar dengan ramah menuju Stasiun Lempuyangan dengan 55 eksemplar buku. Di sepanjang jalan saya hanya diam. Irfan bertanya kenapa. Saya hanya merekam setiap inci jalanan Jogja yang saya ditinggalkan. Mengingat Amanda yang sedang cari jodoh, Mas Heri yang hari itu berulang tahun, Mas Daruz dengan cerpen air terjunnya, Mbak Fajri yang saya panggil Mas, Iva dan Nabilla yang imut, juga semuanya yang belum sempat saya kenal. Saya ingin berterima kasih pada kalian semua, hebat.
Rasanya seperti sedang kuliah sastra delapan semester hanya dalam tiga hari. Pada satu titik saya merasa micin karena teman-teman lain sudah menulis banyak hal, membaca banyak buku, dan memiliki pengalaman seksi seputar kepenulisan. Namun, saya rasa Kampus Fiksi juga titik yang sama untuk naik kelas atau belajar selamanya. Tiga hari paling epic di bulan Maret, mengembalikan hari-hari seperti jaman kuliah lagi. Setelah ini saya berjanji untuk bercinta dengan Haruki Murakami lebih dalam lagi.
Sampai di Stasiun Senen pukul dua pagi, saya berbisik pada Irfan, "Bruh, balik ke Jogja lagi, yuk!"

sincerely, terdevan
yang belum mau pulang dari Jogja

PS: Saya harap saya memiliki foto di acara ini.
PS PS: Saya membayangkan kita ngobrol panjang lebar di cafe, warung kopi, atau di mana saja tentang mimpi-mimpi semburat itu.
PS PS PS: Kalau kamu mengantuk, tidur saja. Di pagi hari akan ada seseorang yang mencintaimu.

Comments