Baby's Breath Across The Window - Sebuah Novela Yang Membuatku Dicintai - Terdevan
[4/18, 8:56 AM]
Ini lebih dari sebuah novela, jika kamu ingin
benar-benar tahu. Aku mendapatkannya dari draft
lama yang sudah hampir kuhapus. Beruntungnya, aku bertemu sahabat yang sangat
manis (cek @irfansebs) yang mengingatkanku lagi pada mimpi-mimpi lama itu.
Kemudian, aku memulainya lagi. Dan kamu tahu, kebanyakan cahaya memang hanya
terlihat saat gelap.
###
Kakakku, yang sedang merawat dua bayi lucu,
tidak sengaja melihat kirimanku di Facebook
tentang novela ini. Dia memberi komentar, menelfonku, dan bertanya banyak
tentang apa, bagaimana, dan dimana. Sialnya, aku tidak pernah terlalu ingin
bicara tentang hobi ini pada keluargaku. Mereka tahu aku suka menulis, tapi
mereka tidak benar-benar tahu seberapa cinta aku melakukan ini. Lebih sialnya, aku
sudah tidak pulang ke rumah berhari-hari. Entah urusan pekerjaan atau aku
memang sedang ingin melarikan diri dari mereka. Aku kebanyakan diam, seperti
selama ini. Sampai akhirnya aku pulang pada Kamis malam. Kakakku, namanya
Devisa (aku tidak pernah tahu kenapa namanya harus Devisa) meledekku dengan
nyanyian lama. "Akhirnya novelku
publish," godanya. Aku hanya berlalu dan menyalami Mama yang malam itu
memakai daster baru. Mama bertanya, "Kenapa
nama penanya harus Terdevan? Kamu tidak suka nama Devani Adinda Putri? Kamu
tahu, tengah malam 23 tahun lalu Mama dan Nenekmu bersusah payah mengadakan
acara syukuran demi meresmikan nama itu. Dan saat itu hujan lebat, kamu tahu,
dan sekarang kamu menggantinya dengan nama slogan motor itu?" Mama
mengatakannya dengan sedih, tapi aku malah tertawa sangat kencang.
Lalu, Abahku pulang dari kesehariannya yang
katanya sangat melelahkan. Tatapan mata dari Abah, bait puisi indah dengan rima
menyedihkan. Abah mencium keningku seperti ia sangat merindukanku. Kamu tahu,
Abahku hampir selalu manis, baik hati, tetap tampan di usia lebih dari lima
puluh tahun. Namun, sesuatu tentang darah, keringat, dan banyak yang tejadi di
bumi ini, membuat kami kadang merasa jauh. Mungkin itu yang membuatku banyak
menulis tentangnya dan menjadi sekurus ini. Namun, novela ini, akhirnya aku
baru merasa benar-benar bertemu dengannya lagi. Abah bertanya bagaimana
prosesnya, kamu tahu sudah lama sekali aku tidak melihat senyum itu. Aku
bilang, "Ini bukan yang pertama.
Sudah lima sebelumnya, kumpulan cerpen dengan teman-teman lain, juga buletin di
kampus, pertunjukan drama, naskah teater, puisi di atas panggung, catatan harian..."
Saat aku menceritakannya, untuk pertama
kali entah sudah sejak berapa lama, aku melihat lagi aura rasa bangga dari
kebanyakan seorang Ayah pada anaknya. Tatapan seperti, "God, you are my daughter and I am so proud of you! I am just so
fucking proud of you!" Waktu aku wisuda, tidak ada tatapan itu. Sama
sekali. Namun novela ini, seperti akhirnya aku diakui sebagai putrinya. Aku
mungkin menulis ini terlalu berlebihan, kurang ajar, kasar, atau apa pun itu.
Tapi, aku selalu melakukan hal baik yang selalu gagal menarik perhatiannya dan
kali ini aku berhasil. Untuk pertama kalinya, aku berhasil membuatnya terpukau
dari apa-apa yang membuatnya sedih. Dari apa-apa yang membuatnya menangis di atas
sajadahnya. Buktinya, Abah meminta temannya untuk melihat isi media sosialku, stalking hingga postingan-ku tahun 2008 saat aku masih alay. Seperti ia ingin
mengetahui bagaimana aku tumbuh dan bernapas. Entah apa, aku merasa sangat
bahagia. Lalu, aku berbaring di sampingnya sambil makan kripik.
Abah pun bercerita
tentang kehidupannya saat seuasiaku. Ia bilang, "Waktu itu Abah memiliki sertifikat jurnalisme, aktif dalam
komunitas jurnalisme di Tegal, dan membantu seseorang menulis berita. Selama
dua tahun, Abah menulis dan dibilang orang gila, berantakan. Tapi, Abah tidak
pernah menghasilkan satu pun. Mungkin, kamu adalah hasilnya." Aku pun
menatapnya seperti, "Like father
like daughter, eh? Aku tidak pernah menyangka aku mendapatkan keahlian ini
darinya." Esok paginya aku pergi ke pasar, membelikannya cangkir kopi
baru. But then, aku tidak pulang lagi
beberapa hari ke depan.
Namun, aku akan pulang untuk mengatakan
ini. Novelaku, berjudul "Baby's Breath Across The Window,"
diterbitkan oleh penerbit indi Mazaya Publishing House dari hasil menang lomba
menulis dengan tema tumbuhan. Kamu bisa pre order sampai tanggal 19 April 2017
(dua hari lagi) dengan ketentuan ini:
[4/18,
9:23 AM] terdevan: ###
Ada seseorang yang selalu aku ganggu tapi
selalu bersemangat jika berbicara tentang dunia tulis-menulis. Aku
memberitahunya dengan sangat excited tetang terbitnya novela ini, namun dia
hanya membalasnya dengan satu emoticon jempol. Shit. Dia tidak biasanya seperti
itu. Anak ini hampir selalu meledak-ledak, cenderung out of control, dan agak
gila. Hingga aku tahu satu hal tersirat, "Dia
sedang sedih." Aku menelefonnya berkali-kali dan tidak dijawab. "Gue lagi eek," hanya itu balasnya.
Padahal aku tahu jika dia adalah orang pertama yang sangat bahagia atas
terbitnya novela ini karena dia tahu aku pasti menulis namanya besar-besar di
lembar ucapan terima kasih. (cek @cloudsans) Lalu, aku ke rumahnya dengan
alasan ingin pinjam gunting kuku dan kami di sana makan es krim dengan krim
biru sampai dia meledak lagi. "Mau
novelanya si @irfansebs juga, ga?” tanyaku. "Mau hugs aja," tatapnya. (I-know-it-right) Lalu, seorang
yang manis lainnya (cek @ollgdhoni) lebih tertarik tentang itu. Dan mereka
berdua adalah pacarku. Aku bisa bilang jika mereka sangat menjengkelkan. Tapi,
aku juga bisa bilang jika banyak semangat yang aku dapatkan berasal dari ide
gila mereka. Novela ini, aku menulisnya tahun 2016 di akhir semester saat
mereka dan aku sedang gila-gilanya dengan skripsi dan uang SKS.
Dan kamu harus tahu satu hal, novela ini,
kuharap bisa mengabadikan banyak cerita lama yang terjadi singkat. Jika kamu
mencintai seseorang, jika dia adalah orang baik, atau jika dia mematahkan
hatimu, saat kamu baca novela ini maka aku harap kamu bisa berdamai dengan
apa-apa yang membuatmu remuk. Karena tujuanku menulis adalah, aku ingin kamu
merasa relate and relief dalam
ceritaku.
Dan aku ingin memeluk kalian sambil
mengatakan ini. Novelaku, berjudul "Baby's Breath Across The Window,"
diterbitkan oleh penerbit indi Mazaya Publishing House dari hasil menang lomba
menulis dengan tema tumbuhan.
[4/18, 10:23 AM] terdevan:###
Miss Ruiz, seorang wanita yang memiliki tatapan
seperti dia akan memakanmu hidup-hidup. Miss Ruiz is the wildest lecturer I
have ever had in my entire damn life. I love her, tho. Dari tatapannya itu, aku
belajar bermacam-macam teori sastra dari segala belahan dunia. Menganalisi
mulai dari Joseph Andrew sampai Fifty Shades of Grey. Pada suatu hari, dia
pernah menangkapku sedang bermimpi hal-hal gila, dan dia tersenyum. Aku bisa
mengatakannya jika ini adalah hasil tipu dayanya yang membuatku menjadi… “that little naughty girl, eh.”
Aku memberi tahu Miss Ruiz tentang novella ini, “Miss,
it’s a Baby’s Breath…” Dan semua yang dia tulis adalah, “You are an alien, Dev!” And I know exactly what it meant.
Kemudian, Miss Ruiz
mengatakan jika dia membatuku promosi ke para Mahasisa Sastra Inggris itu
tentang novella ini. Namun, perasaan lain kemudian hilang dan datang padaku.
Dari semua hal yang Miss Ruiz pernah katakan, novella ini hanyalah 0,05% dari
semua yang bisa aku lakukan. Aku kemudian merasa, ada banyak hal gila lagi yang
seharusnya aku sajikan, ada banyak bintang lainnya. Mungkin karena perasaan-perasaan seperti itu, aku jadi rada malas untuk mempromosikan novela ini. Mungkin aku sudah terlanjur bahagia, atau mungkin ini hanyalah satu buku ekstra micin. Tapi, jika di sana kamu memiliki waktu untuk membacanya, aku rasa aku jatuh cinta padamu.
Entahlah, seharusnya aku menulis tentang sinopsis novela ini agar kalian tertarik untuk membeli lalu membacanya.
Sinopsis
"Jalen, kamu sedang apa?"
"Melukis."
"Aku tahu. Maksudku, melukis
apa?"
"Bunga."
"Aku juga tahu itu, Jalen. Maksudku,
sedang melukis bunga apa?"
"Baby's Breath flower."
Lalu, Jalen menoleh padaku dengan tatapan
dingin. Cat lukisnya berceceran menggores Baby's Breath dengan warna yang
salah. Hingga aku tahu, Jalen, kamu sedang tidak melukis tapi kamu hanya sedang
sedih. Beri tahu aku jika kamu ingin dipeluk. Kamu tidak boleh sepatah hati
ini.
"Ah, baiklah. Lanjutkan saja. Aku akan
menunggu disini. Eh. Tapi, bagaimana bisa seseorang melukis Baby's Breath jika
ia adalah satu-satunya orang yang tidak bernapas?" Kataku sambil melihat
keluar jendela.
###
Open PO ....
Judul : Baby’s Breath across The Window
Jenis : Novella, Romance
Penulis : Terdevan
Editor : Tiara Purnamasari
Layout : Tiara Purnamasari
Desain Sampul : Roeman-Art
ISBN : 978-602-6362-37-7
Cetakan Pertama, April 2017
155 hlm. ; 13 x 19 cm
Diterbitkan Oleh :
MAZAYA PUBLISHING HOUSE
Kp. Empang, RT 12/RW 03, Desa Arjasari,
Kec. Leuwisari, Kab. Tasikmalaya, Jawa Barat 46464
Phone : 085-722-025-109, Email :
mazayapublishinghouse@yahoo.com
Website
: www.mazayapublishinghouse.blogspot.com
Harga: Rp. 46.000,- (umum);
Beli dua buku atau lebih (boleh campur
judul), mendapatkan diskon Rp. 3.000,-/buku.
Untuk pemesanan ketik Baby’s Breath_Nama
lengkap_No HP_Alamat lengkap_Jumlah eksemplar
kirim sms/WA ke 085-722-025-109 atau inbox
ke Tiara Purnamasari atau via bbm add pin D79DCd48
Batas order : 10-19 April 2017
Batas transfer : 19 April 2017
Cetak mulai : 20 April 2017
Buku akan selesai cetak sekitar minggu
kedua Mei.
*Bagi yang sudah transfer, harap segera
kirim foto/scan bukti transfer lewat inbox ke akun Tiara Purnamasari.
Pembayaran tanpa bukti transfer dianggap tidak sah.






Comments
Post a Comment