“Diary sang Zombigaret”

“Aku Bukan Zombigaret!”



Paru-paruku bolong tergerus nikotin, napasku senin-kamis, dan aku bahkan tidak punya banyak kata karena tenggorokkanku seperti dipasung oleh karbon monoksida yang semakin hari membuatku seperti sudah ada di depan mulut kematian. Mataku merah seperti monster di musim panas, mulutku mengeluarkan cairan berbau busuk, tubuhku hanya satu garis dengan beberapa bengkak merah yang menjijikan, dan aku terlihat seperti Zombigaret yang siap untuk bertarung atau mati.
                Aku tidak pernah menyadari bahwa apa yang aku pikir nikmat adalah apa yang membuatku sakit seperti ini. Bukan sakit lebih tepatnya, tapi aku mengantar diriku sendiri dalam penderitaan ini. Sangat ironi. Beberapa orang terdekatku hampir lelah untuk mengatakan, “berhenti hisap nikotin itu, atau sekedar menguranginya!” Tapi tidak satupun dari dua pilihan itu yang aku pilih, aku tetap menghisapnya dan bahkan aku sudah mengganggap lintingan itu seperti sahabatku sendiri. Aku menghisap sampah itu lima bungkus per hari, yang jika satu bungkus berarti 12 batang maka aku mampu mengepulkan asap itu hingga 60 batang untuk sarapan dan teman sebelum tidur. Sekarang aku harus menanggung sendiri endapan zat kimia berbahaya itu dalam tubuhku yang hampir bobrok. Bibirku hitam pekat tanpa senyum, tulang-tulang rusukku menyembul seadanya di balik kulitku yang kering, rambutku mengapung di udara, dan aku hanya bisa meratap di ranjang hijau rumah sakit.
                Dokter datang dan pergi seperti menyesali tindakan anak muda yang ceroboh sepertiku. Berkali-kali dia menempelkan poster berukuran satu meter di sepanjang koridor rumah sakit ini dengan gambar seseorang yang sudah tidak tampak seperti orang lagi. Gambar itu seperti alien yang terdampar di bumi karena kalah bertarung oleh alien lainnya. Tubuh dalam gambar itu menahan rasa sakit kanker mulut, kanker tenggorokan, dan kanker tenggorokan. Sangat menyedihkan. Lebih menyedihkan karena gambar alien itu adalah cerita lain tentang tubuhku. Aku menderita ketiga kata kanker itu karena kebodohanku yang kecanduan benzopyrene, acetone, urethane, dan semua zat kimia berbahaya yang lebih terkenal sebagai “rokok.”
“Seperti inilah tubuhmu. Saya harap kamu tahu merokok bukanlah hal yang bijaksana,” Kata doketer.
Aku hanya mengangguk, berharap aku mengerti kata-kata itu lebih awal sebelum tubuhku digerogoti oleh zat pembasmi serangga yang terkandung dalam setiap linting rokok. Napasku disokong oleh berupa-rupa alat yang tidak aku ketahui apa namanya, tanpa alat itu aku mungkin sudah berada di alam lain sekarang. Bermacam-macam obat juga harus aku tebus demi mengurangi racun di paru-paruku yang bolong ini. Mataku sudah tidak jelas lagi melihat masa depan. Semuanya kuning dan buram. Bahkan gigiku menjadi kuning, mataku merah, dan menjijikan.
“MAMA...!!! ADA ZOMBIIIIIII...!!! ARGHHHHH!” seorang anak berteriak saat melihatku.
Ya Tuhan, jika saja aku diberi kesempatan kedua untuk memperbaiki hidupku yang terabaikan karena terlalu banyak menghisap nikotin ini, maka aku akan memperbaikinya dan berjanji tidak akan merokok lagi. Aku baru menyadari jika menghisap permen itu lebih baik dari nikotin. Aku hampir putus asa dan jatuh. Aku memaki diri sendiri yang berubah menjadi seperti Zombi yang menjijikan. Aku tidak ingin hidup seperti Zombigaret seperti ini.
Aku menatap kepulan asap dan air mataku jatuh. Anak-anak kecil yang sedang bersama Ibunya di lorong rumah sakit ini berhamburan saat melihatku datang dari kegelapan. Sebagian dari mereka berteriak, menangis, dan salah satu dari mereka bahkan pingsan karena aku terlihat seperti zombi dari abad 22. Beberapa orang tua menenangkan anak-anak itu dan sekarang mereka berpikir bahwa aku adalah Zombi hidup. Aku tahu seharusnya aku tetap berada di kamar ekonomi, tapi semua itu hanya membuatku tampak lebih menyedihkan lagi. Langkahku terbata-bata dan napasku hampir hilang bersama teriakkan anak-anak itu tadi. Aku hampir mati karena kehidupan zombi ini.
“Aku bukan Zombigaret, tapi aku menyesal.”
·          





















Comments

  1. Tulisannya kakak menyentuh hati, nih, jadi keinget sama ingatan masa lampau.

    Aku jadi terinspirasi dengan tulisannya kakak, aku pingin cari pembimbing yang punya skill sebagus cerpen ini untuk bantu aku membangun ketrampilan menulis. Tolong, yah, kak.

    Aku baru aja bikin proyek web series di www.kludia.com
    Tapi aku belum tahu apa karyaku itu sudah layak baca atau belum.

    Kontak tweeter: @angryludian

    Tolong bantu yah, kak ^^

    ReplyDelete

Post a Comment