Irfan Rizki: Cute. Cuter. The Cutest. The Longest Relationship I Had

Hello darkness, my old friend
I've come to talk with you again
Because a vision softly creeping
Left its seeds while I was sleeping
And the vision that was planted in my brain
Still remains
Within the sound of silence
- Simon & Garfunkel


Sekarang, aku baru sadar jika kita adalah sahabat. Hah? Sedikit menjijikan untuk didengar, tapi biarkan saja seperti itu.

Kita pertama kali saling mengenal dari lomba menulis di Mazaya Publishing House. Dia menjadi juara pertama cerpen dan aku hanyalah kontributor di lembar sekian pada 2016. Dari situ, kita berbagi ilmu tentang menulis, berniat menulis bersama, dan bertukar judul novel yang harus dibaca. Betapa indahnya hubungan yang dimulai dengan level itu.

Pertemuan pertama kami di Gramedia Matraman, menghadiri Workshop Kampus Fiksi Jakarta. Hingga kami mendapat tiket emas, Kampus Fiksi di Yogyakarta 2017, pertemuan kedua yang super manis. Sejak hari itu, aku merasa anak muda ini benar-benar menemani perjalananku dalam dunia kepenulisan yang wah ini.

Lalu baper. Pokoknya baper. Banget.
aff, why are we so cute? @irfansebs
Lagi, kita tetap berhubungan sebagai partner menulis hingga lanjut sebagai teman, dan aku selalu berharap lebih. Jika kamu jadi aku, aku yakin kamu akan menyukai anak muda ini karena dia baik, sangat baik, dan berbicara sangat manis. Dia, berkali-kali "ngegombal" dan sialnya karena aku juga lumayan penulis romantis, aku selalu membalasnya dengan lebih super manis hingga beberapa orang pasti mengira jika kita benar-benar berpacaran. Setidaknya, itu yang ada di pikiranku.

Lalu manis, ada banyak yang manis-manis yang terjadi di antara kita, yang tak mungkin aku sengaja bocorkan di sini. Alright. Whatever. Sudah larut saat aku menulis ini, jadi mari kita buat ceritanya jadi lebih sederhana.
He celebrated my birthday with a poem on stage
Irfan Rizky mengajarkanku banyak hal, terutama tentang hobi kami ini karena aku banyak datang ke seminar, lomba menulis atau apapun itu bersamanya. Lebih dari itu, dia mengajarkanku jika cinta, peduli, rasa sayang, bahkan romantisme tidak seharusnya diacak-acak dengan satu tuntuntan tentang berpacaran. Ah, bagaimana menjelaskan ini? Aku peduli padanya. Dia peduli padaku. Dia bercerita padaku tentang pasangannya, dan aku juga. Aku bisa menangis, mengeluh, membenci semua orang, tersenyum, menjadi jelek dan apa saja mauku bersamanya. Dan sesederhana itu, persahabatan pada level itu, cinta sebesar itu. Aku tidak mampu meminta yang lebih, karena begini saja lebih indah dari hubungan apapun.

Yang Tersayang Irfan Rizky, terima kasih sudah menemaniku sejak 2016. Aku akan melihat lebih banyak tentang kamu di tahun-tahun selanjutnya. Endless Love. Endless Shit.

Your Cute, Cuter, The Cutest Girl,
Devan

Comments